Minggu, 14 Juni 2015

Filosofi "Setangkai Kembang Pete"


saya ingat dulu kali pertama saya mengenalnya.. kekasih, sahabat, kaka dan teman hidup yang pandai bercerita namun tidak romantis pernah menembangkan lagu Bang Iwal Fals "Setangkai Kemban Pete" Begini liriknya 🎧🎵🎶 Ku berikan padamu Setangkai kembang pete Tanda cinta abadi namun kere Buang jauh-jauh impian mulukmu Sebab kita tak boleh bikin uang palsu Kalau diantara kita jatuh sakit Lebih baik tak usah ke dokter Sebab ongkos dokter disini Terkait di awan tinggi Cinta kita cinta jalanan Yang tegak mabuk dipersimpangan Cinta kita jalanan Yang sombong menghadap keadaan Semoga hidup kita bahagia Semoga hidup kita sejahtera Semoga hidup kita bahagia Semoga hidup kita sejahtera Kuberikan padamu sebuah batu akik Tanda sayang bathin yang tercekik Rawat baik-baik walau kita terjepit Dari kesempatan yang semakin sempit
lagu tadi penggambaran bagaimana cinta itu tidak perlu barang mewah, bunga lilac atau mawar yang langka sekalipun sebagai pembuktiaannya namun tentang bagaimana cinta itu tetap ada sekalipun waktu memakannya diantara deretan kebahagiaan, sakit hati, pilu dan airmata. bunga pete yang lama kelamaan akan merontokkan hampir seluruh bunganya dan kering berjatuhan di tanah, namun jika dilihat lebih jauh dia akan menyisakan setidaknya 5-10 butir yang nantinya waktu membuat dia tumbuh jadi pete hijau yang kata orang bau namun enak jika disantap dengan harga yang pastinya mahal...berarti tidak lagi kere bagi mereka yang mampu belinya. ooh pete, kau banyak dibenci orang karena baunya yang sangat tidak enak namun jauh di lura sana masih bnayak orang yang mengkonsumsinya jadi makanan dan olahan beragam rasa. terimakasih abang yang sudah mendendangkan lagu yang apik itu namun bermakna indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar